CERITA PENDEK - WEJANGAN

Wejangan


     Masih terhitung tengah malam saat mataku tak kuat untuk kupejam kembali, hawa dingin memperingatkanku untuk merapatkan kembali selimut tebal berwarna coklat dengan corak awan yang menjadi teman tidurku setiap malam. Tadi aku terbangun akibat tenggorokan yang meminta untuk diguyur beberapa gelas air, namun sehabis hajatku tertunai tetap saja aku masih seperti ini, melamun menatap langit-langit kamar dengan sebuah bisikan halus “ mau jadi apa kamu besok?”.  Pertanyaan yang sangat menohok bagi sebagian orang termasuk aku  yang notabene nya seorang pelajar di sekolah menengah atas dengan prestasi yang biasa-biasa saja.

   Harusnya mataku segera terpejam, karena besok akan diadakan  ujian penilaian akhir tahun dan malam ini seharusnya menjadi malam untukku beristirahat. Namun anehnya aku seperti tersihir untuk terus membayang masa depan dengan aku sebagai subjeknya, fikiranku mendarat pada orang orang dengan motivasi entah apa, bangun di tengah malam, mengerjakan soal-soal dengan semangat membara melupakan kantuknya yang entah sejak kapan menghilang begitu melihat deret soal berjejer anggun dengan tingkat kesulitan yang berbeda beda. Lantas ku bandingkan mereka dengan diriku yang bangun ditengah malam akibat panggilan alam yang segera minta dituntaskan, lalu lanjut tidur kembali dengan perasaan lega yang teramat sangat.

   Tanpa aku sadari bibirku tersungging kecut.  Miris, aku malu pada orang tuaku yang bekerja banting tulang untukku agar bisa mengenyam pendidikan dengan mencipta prestasi. Aku malu pada diriku sendiri menasehati seseorang agar tidak menjadi  pemalas namun sebenarnya akulah seorang pemalas itu, Munafik sekali aku.

   Hatiku bertambah runyam tatkala teringat janjiku pada eyangku. Liburan akhir tahun kemarin aku pergi kerumah beliau di Jogjakarta, saat itu masih aman karena pandemi virus ini belum menyentuh khatulistiwa. Saat disana tentulah aku mendapat banyak wejangan, selumrahnya kebiasaan nenek terhadap cucunya. Beliau berkata  “ nduk, kalau ada beberapa tujuan yang ingin kamu capai, pastikan suksesmu adalah tujuan pertama yang berhasil kamu raih.  Kenapa eyang bilang begitu? Karena kalau kamu sukses, suatu saat tujuanmu yang lain akan datang dengan sendirinya sesuai kesuksesanmu. Ingat nduk! sukses itu tidak ada yang mudah, usaha dan doa harus menyertai. Jangan putus asa, selalu ingat allah yha nduk. Karena allah adalah sebaik-baik penolong”  ucap beliau sambil mengecup singkat dahiku. Tak lupa aku berjanji kepada beliau agar menjadi orang yang sukses dan berhasil di masa mendatang.

   Dibawah  selimut tebal berwarna coklat dengan corak awan akupun tersadar, seketika mataku tertuju ke arah jam dinding bergambar wayang yang tertempel manis di tembok kamarku. Astaga, sekarang sudah jam setengah tiga! Akupun segera bangkit untuk mengambil air wudhu dan bersiap sholat tahajud, aku meminta ampun dan berdoa kepada-Nya, tak lupa akupun berterima kasih karena telah dibangunkan tengah malam untuk mendapatkan sebuah wejangan yang sangat membangun.

 

   


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

?